History

History

Sabtu, 05 Januari 2013

Posisi dan Fungsi Sejarah dalam Dunia Ilmu



Ø  Posisi Sejarah Dalam Dunia Ilmu
1.      Ilmu Nomotetis/Eksakta
Sejarah mempunyai cara sendiri dalam pekerjaannya. Orang sering membedakan antara ilmu-ilmu alam dengan dengan ilmu-ilmu manusia. Ilmu-ilmu alam bertujuan menemukan hukum-hukum umum, atau bersifat nomotetis. Istilah nomotetis berasal dari bahasa Yunani Nomo dan Tithenai. Nomo berarti hukum, dan tithenai berarti mendirikan.
Dalam ilmu alam, hukum-hukum berlaku secara tetap, tidak pandang orang, tempat, waktu, dan suasana. Kalau ada hukum bahwa benda akan memuai, maka semua benda akan memuai tanpa peduli siapa, di mana, kapan, dan dalam keadaan apapun.
            Sejarah sangat tergantung pada pengalaman manusia. Pengalaman itu direkam dalam dokumen. Dokumen-dokumen itulah yang diteliti untuk menentukan fakta. Fakta-fakta itulah yang diinterpretasi. Dari interpretasi atas fakta-fakta barulah muncul tulisan sejarah.
            Jadi, meskipun ada perbedaan mendasar dengan ilmu alam, sejarah juga memiliki persamaan, yaitu sama-sama berdasarkan pengalaman, pengamatan, dan penyerapan. Akan tetapi, dalam ilmu-ilmu alam percobaan itu dapat diulang-ulang. Sementara itu sejarah tidak bisa mengulangi percobaan. Contohnya, revolusi Indonesia tidak dapat diulang kembali, sekali terkadi, sudah itu lenyap ditelan masa lampau. Sejarah hanya meninggalkan sumber/dokumen. Beda lain ialah kalau fakta sejarah itu adalah fakta manusia, sedangkan dalam ilmu-ilmu alam adalah fakta alam.
            Perbedaan-perbedaan itu tentu saja membawa konsekuensi tersendiri bagi sejarah. Sejarah sering disebut tidak ilmiah karena bukan termasuk ilmu-ilmu alam. Perbedaan antara sejarah dan ilmu-ilmu nomotetis tidak terletak pada cara kerja, tetapi pada objek. Ilmu-ilmu alam yang mengamati benda-benda tentu saja berbeda dengan sejarah yang mengamati manusia. Beda antara ilmu-ilmu alam dan sejarah seperti perbedaan antara benda dan manusia. Benda-benda itu mati, sedangkan manusia itu hidup. Benda mati tidak berpikir, sedangkan manusia itu berpikir dan berkesadaran. Dapat dimengerti kalau ilmu-ilmu alam menghasilkan hukum alam yang berlaku umum dan pasti, sedangkan sejarah menghasilkan generalisasi yang tidak sepasti ilmu-ilmu alam. Kesimpulannya, sejarah bukan termasuk ilmu nomotetis (ilmu-ilmu alam).
2.      Ilmu Ideografis/Humaniora
Sejarah sering dimasukkan dalam ilmu-ilmu manusia atau human studies, yang dalam perjalanan waktu dipecah ke dalam ilmu-ilmu sosial (social sciences) dan ilmu kemanusiaan (humanities). Sejarah itu bercerita tentang manusia. Akan tetapi, juga bukan cerita tentang manusia masa lalu secara keseluruhan. Objek utama sejarah adalah manusia. Akan tetapi,sama-sama membicarakan tentang manusia, kajian sejarah berbeda dengan misalnya antropologi. Sejarah identik dengan peradaban manusia. Lebih dari segalanya, yang juga menjadi objek dari sejarah ialah waktu. Jadi, sejarah mempunyai objek sendiri yang tidak dimiliki ilmu lain secara khusus. Waktu dalam pandangan sejarah manusia tak pernah lepas dari manusia.
            Oleh karena itu sejarah berusaha menuliskan hal-hal yang  khas  atau bersifat idiografis. Istilah idiografis berasal dari bahasa Yunani idio dan graphein. Idio berarti ciri-ciri seseorang dan graphein berarti menulis. Sering juga disebut ideografis (bahasa Yunani idea berarti pikiran dan graphein, sebab sejarah ialah ilmu yang menuliskan pikiran pelaku). Kesimpulannya, sejarah bisa masuk ilmu humaniora karena objeknya adalah manusia. Sejarah membicarakan manusia/masyarakat dengan selalu memperhatikan signifikansi ruang dan waktu.
3.      Ilmu Sosial/Tingkah laku
Sejarah dan ilmu-ilmu sosial mempunyai hubungan timbal balik. Sejarah diuntungkan oleh ilmu-ilmu sosial, dan sebaliknya. Belajar sejarah tidak dapat dilepaskan dari belajar ilmu-ilmu sosial, meskipun sejarah punya cara sendiri menghadapi objeknya. Topik-topik baru terpikirkan, berkat ilmu-ilmu sosial. Meskipun demikian, sejarah dan ilmu-ilmu sosial berbeda tujuannya. Tujuan sejarah ialah mempelajari hal-hal yang unik, tunggal, ideografis dan sekali terjadi. Sedangkan ilmu-ilmu sosial tertarik kepada yang umum, ajek, dan merupakan pola. Pendekatan sejarah juga berbeda dengan ilmu-ilmu sosial. Sejarah itu diakronis, memanjang dalam waktu. Sedangkan ilmu-ilmu sosial itu sinkronis, melebar dalam ruang. Sejarah mementingkan proses, sementara ilmu-ilmu sosial menekankan struktur.
            Sejarah pada mulanya sangatlah naratif, yang hanya tersusun berdasarkan urutan fakta dengan penjelasan dan ulasan sekedarnya atas kenyataan-kenyataan atau peristiwa-peristiwa yang telah berlalu (aspek what, who, when, dan where). Seiring dengan perkembangan dan kemajuan ilmu pengetahuan, sejarah sebagai sebuah disiplin ilmu menunjukkan posisinya yang sejajar dengan disiplin-disiplin lain bagi kehidupan manusia masa kini dan mendatang. Kecenderungan ini akan semakin nyata apabila sejarah bukan hanya sebatas kisah biasa, melainkan di dalamnya terkandung eksplanasi kritis dan kedalaman pengetahuan tentang “bagaimana (how)” dan “mengapa (why)” peristiwa-peristiwa masa lampau terjadi. Terdorong oleh kecenderungan metodologis ini, maka dalam prakteknya sejarah harus menggunakan pendekatan dan konsep-konsep serta teori-teori ilmu sosial yang lebih strategis dalam merekonstruksi masa lampau. Penggabungan ini dapat menggambarkan kejadian sebagai proses sekaligus mengungkapkan aspek struktural atas kejadian-kejadian.
           
Ø  Fungsi Sejarah
1.      Fungsi Genealogis
Menurut T. Ibrahim Alfian, sejarah memiliki beberapa kegunaan. Salah satunya untuk melestarikan identitas kelompok dan memperkuat daya tahan kelompok itu guna kelangsungan hidup. Di dalam karya-karya sejarah tradisional seperti babad, dan hikayat yang berisi mitos, legenda dan cerita pahlawan juga terdapat genealogi. Genealogi memuat silsilah seseorang atau suatu kelompok mansayarakat tertentu.
Dengan genealogi dapat diketahui nenek moyang seseorang atau suatu kelompok masyarakat. Seseorang atau kelompok akan merasa bangga apabila dirinya merupakan keturunan dari orang yang memiliki pengaruh, nama besar, jasa dalam sejarah. Orang Bugis sangat bangga dengan Arung Palaka yang pemberani. Dari hal ini muncul siri pesse atau semangat untuk mempertahankan harga diri pada masyarakat Bugis.
 Dalam Babad Tanah Jawi, Raja-raja Mataram dalam genealoginya sampai kepada para nabi di satu pihak dan legenda pewayangan di pihak lain. Di dalamnya, digambarkan bahwa silsilah raja-raja Jawa sampai kepada para nabi seperti Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, dan seterusnya, melalui tokoh timur tengah Iskandar Zulkarnain, tokoh-tokoh wayang purwa, raja-raja mistis di Jawa dan akhirnya bersambung sampai raja-raja Mataram. Genealogi ini juga dapat memperkuat legitimasi suatu kekuasaan.
2.      Fungsi Didaktis
Sejarah dapat digunakan sebagai pendidikan politik. Hal ini dapat diihat dalam lika-liku sejarah Indonesia. Setiap pemerintah selalu melakukan pendidikan sejarah dan kewarganegaraan untuk warganya. Pada zaman Jepang dengan maksud untuk memobilisasikan penduduk, bahkan para penghulu yang sehari-harinya hanya mengurus soal nikah, talak, dan rujuk diharuskan untuk mengikuti latihan. Baru pertama kali itulah para penghulu , yang kebanyakan terdiri dari para  kiai, mendapat pendidikan politik secara resmi.
Pada zaman Orde Lama (Orla) ada indoktrinasi. Indoktrinasi itu dilakukan pada organisasi dan melalui sekolah-sekolah. Tujuan dari pendidikan politik ialah dukungan atas politik kekuasaan dengan mendorong perbuatan-perbuatan revolusioner dan menyingkirkan kaum kontra revolusi. Pada zaman Orde Baru (Orba) kita mengenal penataran-penataran, tetapi dengan tujuan lain, yaitu untuk pembangunan. Tentu saja tujuan, intensitas, dan materi berbeda-beda, tetapi itu semua dapat dimasukkan dalam pendidikan politik. Pendidikan semacam itu dipakai untuk mengenalkan ideologi negara serta hak dan kewajiban warga negara.
3.      Fungsi Kajian Ilmu
Peristiwa sejarah itu mencakup segala hal yang dipikirkan, dikatakan, dirasakan, dan dialami oleh manusia. Karena itu, lapangan sejarah meliputi segala pengalaman manusia yang mengungkapkan fakta mengenai apa, siapa, kapan, di mana, dan bagaimana sesuatu telah terjadi. Faktor manusia dalam perspektif sejarah sangatlah esensial, karena berdasarkan kesadarannya manusia memiliki nilai historisitas, yaitu selalu berkembang dalam rangka merealisasikan dirinya secara konkret.
Oleh karena itu, peristiwa-peristiwa manusia sebagai kenyataan diri bersifat simbolis dan mengandung makna. Peristiwa sejarah bukan hanya kejadian fisik, melainkan peristiwa bermakna yang terpantul sepanjang waktu sehingga dapat terungkap segi-segi pertumbuhan, kejayaan, dan keruntuhannya. Hal ini menjadi kajian sejarah. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa sejarah adalah sebuah ilmu yang berusaha menemukan, mengungkapkan serta memahami nilai dan makna budaya yang terkandung dalam peristiwa-peristiwa masa lampau.
            Tidak semua peristiwa masuk dalam kajian sejarah. Hal ini disebabkan sejarah ialah ilmu tentang sesuatu yang mempunyai makna sosial. Sejarah sebagai ilmu berusaha menentukan pengetahuan tentang masa lampau suatu masyarakat tertentu.

DAFTAR PUSTAKA
Abdurrahman, Dudung. 2007. Metodologi Penelitian Sejarah. Yogyakarta: Ar-Ruzz Media.
Kartodirdjo, Sartono. 1982. Pemikiran dan Perkembangan Historiografi Indonesia Suatu Alternatif. Jakarta: Gramedia.
Kuntowijoyo.1995. Pengantar Ilmu Sejarah. Yogyakarta: Bentang.
Musyarof, Ibtihadj. 2006. Islam Jawa. Yogyakarta: Tugu.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar