History

History

Rabu, 09 Januari 2013

Historiografi Kolonial


                   BEBERAPA SUMBER PORTUGIS UNTUK HISTORIOGRAFI INDONESIA
            Untuk meneliti sejarah Indonesia, terutama ketika bangsa-bangsa Eropa mulai berdatangan dan mengadakan kontak dengan penduduk Indonesia, dapat mempergunakan sumber-sumber Portugis dan sumber-sumber Spanyol. Sumber-sumber dari Portugis yang berhubungan dengan sejarah Indonesia dapat dikategorikan menjadi tiga bagian, yaitu:
1.      Catatan-catatan resmi mengenai awal masa terjadinya kontak langsung dengan bangsa Portugis (kira-kira tahun 1511-1650).
2.      Cerita-cerita lain dan laporan-laporan saksi mata.
3.      Karya-karya dari penyebar agama.
Berkaitan dengan sumber-sumber Portugis kategori pertama, nama Joao de Barros (kurang lebih 1496-1570) dapat diangkat ke permukaan. Ia dapat disebut sejarawan kolonial besar yang pertama dan seorang orientalis perintis. Joao de Barros merupakan pemangku jabatan Factor (feitor) yang berkedudukan di Casa da India atau Wisma India, suatu jabatan yang mirip dengan wakil kerajaan di tanah jajahan Portugis. Atas dasar kedudukannya ia dapat membaca seluruh surat-surat resmi dan hampir semua surat tidak resmi yang dikirim oleh para pembesar di Lisabon kepada para bawahan mereka di dunia Timur, dan bertemu dengan para pegawai tinggi, pedagang, serta petualang yang kembali ke tanah air mereka dengan selamat. Sebagai factor di Wisma India, Barros dalam waktu luangnya menyusun karya sejarahnya tentang Perbuatan-perbuatan yang dilakukan oleh Bangsa Portugis ketika Menemukan dan menaklukkan Lautan-lautan dan Negara-negara Timur, yang kemudian diterbitkan dengan judul himpunan Decadas da Asia.
Barros juga menulis sejumlah karya yang lebih khusus sifatnya tentang geografi Indonesia, perniagaan dan pelayaran, yang kerap disebutnya dalam bukunya yang berjudul Decadas. Sebagai penulis sejarah resmi petualangan bangsa Portugis di Hindia, Barros condong menutupi atau mengabaikan kesalahan-kesalahan bangsa Portugis walaupun ia juga memiliki pandangan yang kritis dan tidak dalam segala hal memaafkan kesalahan tersebut, suatu sikap yang dimiliki sejarawan kolonial pada umumnya. Dalam tulisannya, Barros mengatakan beberapa hal menarik tentang Asia Tenggara umumnya dan Indonesia khususnya. Gambarannya tentang Sumatra mengisi kekosongan yang terbesar dalam Travels karya Marco Polo, dan kisahnya tentang pulau tersebut mungkin adalah yang paling lengkap dan yang paling tepat yang pernah dicetak, sebelum terbitnya buku yang bersifat ensiklopedis, Oud en Nieuw Oost-Indien karya Valentijn pada tahun 1724. Gambarannya tentang Pulau Jawa kurang mendalam dan banyak mengandung kesalahan karena ia mengatakan bahwa suku Jawa adalah keturunan Cina dan bahwa bagian barat dari pulau itu (Sunda) merupakan pulau yang terpisah, sementara di sisi lain, ia mengakui dan  menganggap Pulau Jawa sebagai satu kesatuan. Tulisan-tulisan dari Barros ini dilanjutkan oleh Diogo do Couto (1543-1616), yang juga mengikuti kebiasaan pendahulunya dalam memakai sejarah tradisional dan sumber tertulis Asia dengan melalui perantaraan penerjemah.
Tulisan-tulisan yang juga memiliki arti penting bagi sejarah Indonesia adalah tulisan dari Fernao Lopes de Castanheda (1500-1559) dan Antonio Bocarro. Buku dari Castanheda yang berjudul Dialogo do soldado pratico (Dialog Seorang Serdadu Veteran) memuat tindakan-tindakan bangsa Portugis di Asia. Buku ini mungkin merupakan kecaman paling pedas yang pernah ditulis tentang perbuatan bangsa Portugis di Asia, sehingga tidak mengherankan jika buku ini baru diterbitkan dua abad setelah wafatnya Castanheda. Walaupun mengunjungi Indonesia, Castanheda kurang membicarakan kerajaan-kerajaan penduduk asli dibandingkan dengan Joao de Barros, dan meskipun bukunya dapat digunakan untuk mencocokkan buku Barros, buku ini ditulis berdasarkan sutu pandangan yang lebih sempit. Tulisan lainnya adalah dari Antonio Bocarro, yaitu sebuah ensiklopedia yang berjudul Livro do Estado da India Oriental (Buku tentang Negara Hindia Timur). Ketika Bocarro menulis ensiklopedia ini,  Portugis tidak lagi merupakan suatu kekuatan di Indonesia. Bocarro juga menulis artikel yang menarik tentang Malaka. Sejarah kepulauan Maluku di bawah pemerintahan Gubernur Sancho de Vasconcellos yang umumnya dianggap ditulis oleh Bocarro, sesungguhnya bukan tulisannya dan hanya memuat kata pendahuluan darinya.
Dalam kategori kedua dari cerita-cerita biasa dan laporan pandangan mata yang lain, terdapat dua buah hasil karya yang sangat penting bagi sejarah Indonesia. Yang pertama ialah buku Suma Oriental tulisan Tome Pires, yang memberikan gambaran yang memikat tentang kondisi Asia Tenggara ketika bangsa Portugis pertama kali muncul dan sebelum Indonesia banyak dipengaruhi oleh bangsa Eropa. Tulisan yang kedua dari kategori ini adalah Informacao yang memuat gambaran tentang Maluku, karya Gabriel Rebello. Buku ini terbagi ke dalam tiga bagian. Bagian pertama memberi gambaran yang rinci tentang kepulauan Maluku dan keadaan alamnya, dengan suatu laporan yang lebih singkat tentang Halmahera dan pulau-pulau lain di sebelah timur pulau itu. Rebello juga menggambarkan adat-istiadat, ciri fisik, pakaian dan tingkal laku, olah raga dan kegiatan pengisi waktu , maupun kepercayaan religius mereka. Beritanya tentang Ternate sangat berharga karena ia tinggal di pulau itu selama bertahun-tahun dan akrab dengan semua orang penting, mulai dari sultan ke bawah. Selain itu ia juga menguasai bahasa Ternate. Di dalam tulisannya tentang tumbuh-tumbuhan serta binatang setempat, ia memiliki pandangan yang tajam, dan tuliannya tahan uji bila dibandingkan dengan berita-berita yang ditulis oleh para ahli keadaan alam pada abad-abad berikutnya seperti Wallace dan Guillermard yang bahkan pernah mengunjungi pulau-pulau itu.
Bagian kedua mengisahkan sejarah penemuan kepulauan Maluku oleh bangsa Portugis dan perselisihan mereka dengan bangsa Spanyol mengenai kedaulatan di pulau-pulau itu. Sebagai seorang Portugis yang cinta tanah airnya, ia sangat kritis terhadap bangsa Spanyol, dan bab pertama dari Informacao berisi cerita tentang suatu serangan terhadap Gonzalo Hernandes de Oviedo tentang kesalahan-kesalahannya yang berkaitan dengan pulau rempah, yang agaknya dibuat oleh penulis sejarah tadi dalam bukunya yang terkenal, yaitu Histora general y natural de las Indias yang diterbitkan pada tahun 1535-1537.
Bagian ketiga dari Informacao menggambarkan masa di bawah pemerintahan nahkoda Bernaldim de Sousa di Ternate (1549-1552). Ada indikasi Rebello menulis buku ini terutama untuk membenarkan kelakuan de Sousa, karena itu pada bagian ini sangat berat sebelah. Ia juga membenarkan perbuatan Sultan Hairun dari Ternate, mungkin dengan alasan-alasan yang lebih rasional.
Terdapat salah satu tulisan, yang dalam hal ini tidak termasuk salah satu dari tiga kategori besar sumber-sumber Portugis yang sudah disebut di muka, yaitu buku Peregrination karya Fernao Mendes Pinto. Karya ini menarik perhatian para sejarawan Indonesia, karena ia bermaksud menggambarkan peristiwa-peristiwa di Pulau Jawa dan Sumatra, misalnya tentang serangan raja Islam dari Demak terhadap raja Hindu dari Pasuruan.
Kebudayaan Portugis pada abad ke-16 dan ke-17 terutama berupa kebudayaan gereja, khususnya sejak pertengahan abad ke-16, ketika para pastor Jesuit dan Inquisisi menempati kedudukan kuat di Portugis dan di sebagian besar pemukiman Portugis di luar negeri. Kebudayaan yang terutama bersifat kegerejaan ini sangat mempengaruhi karya-karya Portugis pada abad ke-16 dan ke-17, dan terutama terlihat dalam suatu campuran antara sifat-sifat ketidaktahuan dan ketidakadilan, yang tercermin dalam pandangan mereka tentang agama-agama non-Katolik Romawi. Prasangka ini sangat jelas dalam hubungannya dengan agama Islam. Dalam konteks ini dapat diketahui bahwa tulisan-tulisan tersebut dipengaruhi oleh fanatisme agama.
Tulisan-tulisan lama para misionaris tentang Indonesia tidak sama tarafnya dengan misalnya tulisan-tulisan mengenai Cina, Jepang atau India. Hal ini sebagian disebabkan karena kekuasaan Portugis tidak pernah berakar kuat di negara-negara sebelah Timur Malaka, sedangkan kekuatan mereka di Maluku selalu goyah. Setelah kehilangan Maluku yang direbut oleh Belanda pada tahun 1605, dan tambahan pula setelah penaklukkan suku Makasar yang pro-Portugis oleh Belanda enampuluh tahun kemudian, pengaruh Portugis di Indonesia hanya tinggal di Timor, Solor, dan ujung sebelah timur pulau Flores (Larantuka). Bahkan di sini pengaruh itu bertahun-tahun lamanya tidak begitu kuat, sementara Timor dan Solor baru pada tahun 1681 disebut secara resmi sebagai jajahan Portugis.
Dalam hubungan dengan tulisan dari kaum misionaris Portugis ini, yang sangat berharga adalah penerbitan secara seri dari catatan–catatan Portugis di Indonesia, yang menceritakan kegiatan para misionaris Portugis di Indonesia yang pada saat pembuatan tulisan ini yakni paroh pertama 1960-an, sedang dijalankan oleh Pastor Artur Basilio de Sa, misionaris yang selama bertahun-tahun menjadi penyebar agama di Timor. Nilai dari bukunya yang berjudul Documentacao ditambah oleh banyak dokumen yang terutama bersifat militer, ekonomi atau sosial. Dengan demikian dokumen tersebut memberikan gambaran yang lengkap mengenai kegiatan bangsa Portugis di Timor, di samping memuat banyak laporan singkat tentang bangsa-bangsa yang dihubungi oleh bangsa Portugis.
Tulisan-tulisan yang dalam segala hal jauh lebih memuaskan adalah karya-karya yang dilengkapi dokumen dengan baik tentang sejarah bangsa Portugis di kepulauan Sunda Kecil, yang diterbitkan oleh Commandante Humberto Leitao. Penulis ini adalah seorang pensiunan opsir angkatan laut Portugis. Setelah memenuhi tugasnya di Timor dalam waktu yang lama, ia telah mengadakan penyelidikan selama satu dasawarsa terhadap dokumen-dokumen yang relevan yang disimpan di Arquivo Historico Ultramarino (Arsip Sejarah Daerah-daerah Seberang) di Lisabon. Karya-karyanya ditulis dengan teliti dan penuh dengan bahan-bahan baru. Kalau ditinjau bersama dengan buku Documentacao karya pastor Artur de Sa, kedua buku ini tidak diragukan lagi merupakan ladang yang subur bagi penyelidikan para sejarawan Indonesia. Tetapi terdapat perbedaan antara karya Commandante Leitao dengan Documentacao, yakni di dalam karya Commandante Leitao ini tidak dilengkapi indeks.
Terdapat sejumlah tulisan modern lain, hasil karya penulis Portugis, yang terutama atau sebagian berkenaan dengan sejarah pulau Timor, tetapi tulisan-tulisan tersebut kurang penting jika dibandingkan dengan karya Pastor de Sa Dan Commandante Leitao. Salah satunya adalah sebuah esai pendek karya Ruy Cinatti, Esboco historico do sandalo no Timor Portugues (Lisabon, 1950), yang memuat beberapa fakta sejarah yang menarik tentang pemeliharaan atau penanaman pohon cendana di Timor. Cinatti juga menulis tentang lukisan batu prasejarah di Timor.
Selain sumber-sumber Portugis yang sudah disebut di atas, terdapat sumber-sumber Spanyol yang memuat bahan tentang Indonesia. Portugis dan Spanyol merupakan kerajaan kembar sejak tahun 1580 sampai 1640, dan meskipun masing-masing pemerintah jajahan dan daerah-daerah pengaruh kedua kerajaan Semenanjung Iberia ini tetap terpisah selama periode tersebut, dengan sendirinya arsip-arsip Spanyol banyak mengandung keterangan mengenai daerah jajahan Portugis maupun jajahan negeri itu sendiri. Hal ini secara khusus berlaku bagi arsip-arsip di Simancas dan Seville, yakni Archivo de Indias. Pada gilirannya dokumen-dokumen ini sering memuat bahan tentang Indonesia terutama selama periode ketika bangsa Spanyol berada di Ternate dan Tidore (1606-1663). Suatu gambaran tentang Aceh yang disusun pada tahun 1584 oleh Uskup Portugis di Malaka, Dom Joao Ribeiro Gaio, tanpa diketahui ternyata tersimpan dalam terjemahan sebuah naskah modern, dan kumpulan surat yang tebal dari Don Geronimo de Silva, Gubernur Spanyol di Ternate pada tahun 1612-1617. Hal ini memperlihatkan bahwa selain sumber-sumber Portugis, sumber-sumber Spanyol juga mengandung bahan tentang sejarah Indonesia.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar